Belanda berkepala Hitam




Senin, 23 Juni 2014

GUN GON "GUNDUL DAN GONDRONG"
GUN GON " Belanda Berkepala Hitam "

Seperti biasa suasana di desa gemahripah selalu tenang damai jauh dari bisingnya kendaraan atau suara pabrik pabrik industri, ya maklum sebuah desa yang  berada di antara lembah dan gunung yang memagarinya, udaranya begitu segar pemandanganya pun pasti elok sekali.
Desa ini mempunyai dua orang pemuda yang nyeleneh namun baik hati suka menolong  tanpa pamrih yaitu mereka sering di panggil Gundul dan Gondrong,  sebagai pemuda pemikiran mereka cenderung  kritis tajam akan sesuatu hal yang mereka rasa di sekitar mereka, namun tidak sering juga membuat  orang bisa salah mengerti karena sikapnya.
Singkat cerita, pada sore hari gundul pergi kerumah kakenya yaitu mbah Darmo, gundul berniat utuk pamitan dan minta doa restu sebelum berangkat merantau kekota yang telah iya rencanakan bersama Gondrong  sebelumnya.
Gundul: “duk..duk...duk... (pintu di ketuk) Assalamu Alliakum Mbah... mbah.... ini gundul mbah mbah ada di rumahkah mbah....”
“dalam hati gundul berucap” hehe orang tua jam segini masa tidur keluar ke maen bola ato apa hehehehe mbah mbah...  masa kalah sama anak muda”
Mbah Darmo :”waduh ada apa ya ini anak kok tumben tumbenan ke sini.. walah gawat mo minta jajan pastinya ni mau ngabisin makanan  aduhhh gusti allah ....  “
“iya iya iya sebentar Dul masuk lah gak usah teriak teriak kenceng kaya speaker mushola , Mbah ada di dalem Dul... “
Gundulpun masuk kerumah embahnya dan menjelaskan kedatangannya untuk berpamitan mau merantau ke kota, namu di tengah tengah ucapan nasehat Mbah darmo gundul tercengan kala si embah berkata “Dul hati-hati walau jaman sudah merdeka tapi masih banyak Belanda berkepala hitam yang hidup berkeliaran di negara kita apa lagi di kota di pusat-pusat pemerintahan, mereka cenderung sadis dan juga kejam Dul”
Gundul:”...Mbah mbah mbah stop mbah stop .... “belanda berkepala hitam .... lha bukanya orang belanda  pirang  mbah... maksudnya apa mbah.. bingung diriku mbah.
Mbah Darmo:” ya nggak usah bingung nanti juga kamu pasti bakalan tau dan paham,makanya banyak banyak koreksi diri dan lingkungan sekitarmu.. pilih yang baik jauhi yang buruk.. “
Gundul:”waduh mbah mbah.... ok lah kalo begitu si ganteng pamit dulu mbah mohon doa restunya..
Mbah Darmo:” ya sudah hati-hati kamu di jalan Dul..”
Gundul:”siap Mbah.... “
Mbah Darmo:”et et et et Dul tunggu dulu sebentar kamu gak nunggu dulu Dul....”
Gundul:”(asik uang jajan ni emhhh ) ..... Ok mbah ad apa?? Nunggu apa? Hehe mau ngasih uang jajan ya mbah buat bekal.
Mbah Darmo:”ha ha ha ha bekal kepalamu .. maksud mbah kamu gak nunggu di usir dulu Dul hahahaha ...”
Gundul:”OaLLLLaaaaaaahhh.... dasar edan si Mbah ... Hati-hati mbah nanti pas wafat.. mbah buta dan tuli.. makanya jangan kebanyakan bercanda sudah tua dan jangan pelit...”
Mbah Darmo:” hahaha bisa aja kamu Dul..Sini sini sini ini ada uang jajan secukupnya, dah sana pergi hahaha (Dul dul cuman kamu cucu embah yang paling aneh namun cman kamu yang masih inget sama mbah smoga berhasil cu...)
Gundul pun pergi kerumah gondrong dan mengajak gondrong tuk lekas pergi sebelum hari larut.
Gondrong  ternyata telah siap dengan berbagai perbekalan yang telah ia siapkan, entah apa yang di bawanya gondronng sangat penuh sesak sekali tas nya dengan barang barang, lalu gundul pun bertanya?..
Gundul:”ya allah Drong bawa apaan sampe penuh begitu.. apa gak susah pake bawa panci kwali piring sendok beras dan apa? Lagi tu di dalem”
Gondrong:”uh.. susah kalo orang kampung kaya begini ni yang nggak tau kata Mandiri... ni buat masak biar irit nanti selama dalam perjalanan...”
 Gudul:”akh.... ya sudah sudah ayo berangkat”
Dalam tengah tengah perjalanan mereka berhenti sejenak untuk beristirahat,gundul teringat ucapan kake tentang Belanda Berkepala Hitam, lantas gundul pun menanyakan hal tersebut kepada gondrong.
Gundul:”Drong tadi sore sebelum berangkat aku kerumah kake lalu dititipi pesan katanya (Dul hati-hati walau jaman sudah merdeka tapi masih banyak Belanda Berkepala Hitam yang hidup berkeliaran di negara kita apa lagi di kota di pusat-pusat pemerintahan, mereka cenderung sadis dan juga kejam Dul), maksudnya apaan ya Drong” .
Gondrong:”akh mene kete he ... hahahaha.. mana ada orang belanda berambut hitam paling juga kalo gak blasteran ya di cat Dul dul dul... “
Gundul:”haaaaahhh dasar kuman kuman nakal...semua orang juga tau kebanyakan pirang.. makanya aku heran Drong...., tapi Drong biasanya si mbah itu suka tepat amanatnya.. mudah-mudahan ada hikmahnya Drong”.
Gondrong:” hahaha ya sudah sudah kita cari tau jawabanya nanti ... sekarang kita makan nasi liwet  ala bang gondrong si super ganteng sekali.. hahaha...  setelah sholat lalu kita meluncur lagi Dul”.
Gundul:”azzz iya iya iya ganteng sekandang ayam.. “.
ke esokan harinya mereka sampe di tempat tujuan mereka di kota, merekapun lekas berjalan ketempat tujuan mereka yaitu ke kelurahan terdekat untuk mencari tempat  berjualan dan mengurus  perijinannya, mereka berencana ingin berjualan kopi dan gorengan serta makanan lainya di pinggiran jalanan kota.
Gun Gon pun masuk ke dalam kelurahan yang waktu itu kebetulan bertemu langsung dengan Pak lurah bernama Broto, pak Broto pun mempersilahkan masuk dan menyambut mereka,dengan sekilas pak broto paham dengan maksud kedatangan mereka.
Setelah saling menjelaskan akhirnya mereka dapat tempat yang di inginkan untuk berjualan di ujung sebrang jalan sebelum halte bis, namun Gun Gon merasakan da yang janggal dengan perihal perijinan dan biaya sewa yang lumayan mahal.
Gundul:” Drong masa perizinannya cman kita tandatangan di surat pernyataannya  tapi kok kita gak boleh dapet salinannya buat pegangan kita, terus kok biaya sewanya kok di pikir-pikir sama kaya kita sewa kios, apa ini namanya kota ya.. selalu serba mahal”.
Gondrong:” ya sudah kita ikuti aja dulu toh kan dia Lurahnya di sini, masa mau jahatin kita”.
Gundul:”hehe iya juga seh Drong kita coba sajah mudah-mudahan kita berhasil jualanya walau agak mahal sewanya”.
Gun Gon pun mulai berjualan dari hari ke hari walau sedikit hasil yang mereka dapat namun merka masih selalu optimis dengan kata berhasil.
Namun di penghujung minggu ketiga mereka berjualan, mereka mendapat sebuah cobaan kala petugas keamanan kota menertibkan daerah mereka berjualan semua orang lari tunggang langgang dengan meninggalkan dagangan nya di tempat,namun tidak dengan Gun Gon mereka diam dan coba berbicara baik-baik dengan petugas tersebut.
Gun Gon:”pak pak pak... sabar tunggu dulu bisa jelaskan kepada kami apa yang terjadi.. apa salah kami”.
Petugas:”oooohhh rupanya kalian baru datang kekota ya kalian tidak paham bahwa di ruas jalan ini dilarang  berjualan dalam bentuk apapun karena menyebabkan kemacetan dan menggagu pengguna jalan khususnya pejalan kaki.
Gun Gon:” pak petugas kami sudah mendapat izin dari kelurahan setempat dan kami membayar penuh sewa tempat ini”.
Petugas:”hahh.... alasan kaum urban seperti kalian selalu sama, mana buktinya tunjukan kepada saya, lagian ini tempat sangat tidak di perbolehkan berjualan, ada peraturan daerahnya dan undang undangnya kalian paham tidak?.. sudahlah.. kalian sudah melanggar masih saja bantah,mana buktikan kalo iya panggil Lurahnya ke sini menghadap saya.
Gun Gon:”siapa kaum uban kami belum beruban pak..adoohh ... baiklah mari kita sama-sama menuju ke kelurahan kita cari kebenaranya di sana”.
Petugas:”urban bukan uban.... ooohhh dasar udik ayo kita berangkat ke sanah, kalo tidak kalian saya langsung bawa ke kantor untuk di proses sesuai hukum yang berlaku”.
Gun Gon:”hehe ya maff pak... mari pak.. kita ke sana”.
Gundul:”galak bener ya si Bp petugas,hadehhh nasib Drong Drong..”.
Akhirnya merekapun pergi bersama ke kelurahan tempat mereka mendapatkan izin tersebut, namun apa yang terjadi sesampainya di sanah, setelah mereka menjelaskan yang terjadi sang lurah membantah dengan tegas... malah Pak Lurah mencacimaki mereka.
Pak Lurah:” mana buktiya kalian dapat izin dari saya haaahh kalian jangan bawa-bawa saya.. saya Lurah Lho... masa mau ngurusin hal begituan.. mana coab bukti izin sama sewa kalo kalian bayar ke saya.. haahh dasar gelandangan isinya ngotorin kota doang, sudah bawa saja mereka untuk di proses”.
Gun Gon pun sedih mereka tidak bisa berkata apa-apa, lalu mereka di bawa ke kantor petugas keamanan di balai kota untuk dimintai keterangan, namun memang allah selalu maha adil Bp petugas yang walaupun galak ternyata mengerti dan mau memahami apa yang terjadi dengan mereka.
Samar samar Bp petugas mendengar pembicaraan antara Gun Gon.
Gundul:”Drong udah gak usah mewek kaya bebek lupa berenang, ini mungkin yang di maksud si mbah Tentang Belanda Berkepala Hitam, ternyata bangsa kita sendiri yang sifatnya sama dengan kolonial, berani jahat mengadu domba antar sesama mebodohi antar sesama.... emmhh ini ternyata.. sungguh-sungguh benar sebenarnya negara kita belum seutuhnya merdeka Drong”.
Gondrong:”mewek kepalamu itu mewek.. bener banget Dul ini lah Belanda Berkepala Hitam.
Petugas:” saya tau kalian berbicara apa dan saya tau kalau kalian sebenarnya korban penipuan,kalo di kampung saya ini di namakan Londo Ndase Ireng...  ya itulah Belanda berkepala hitam.. ini sudah menjamur dan saya sangat prihatin ini bisa terjadi dari golongan bawah sampe pusat  sanah..  sangat menyedihkan.. maka dari itu sudah menjadi tugas kalian para pemuda untuk membangun akal yang sehat budi pekerti yang baik dan iman yang kuat.. agar kita benar benar bisa seutuhnya merdeka.
Gun Gon:”ohh iya iya Pak teriam kasih.. kami akan berusaha berjalan ke arah sanah pa kami tidak mau menjadi pemuda yang bodoh dan mudah tuk di bodohi”.
Petugas:”kami akan membuat tim investigasi untuk menyelidiki kasus seperti kalian, nah sekarang kalian kami beri keringanan, kalian kami bebaskan silahkan kalian bereskan dagangan kalian dan lantas kalian mau kemana?
Gun Gon:” kami mau pulang kedesa.. pak.. kami mau membangun diri kami pribadi terdahulu, trus keluarga kami lalu masyarakat sekitar dan syukur-syukur teman teman sebangsa setanah air semua”.
Petugas:” baiklah anak muda doakan kami agar mampu mengungkap kasus ini, dan teruslah berpikir positif hindari kriminalitas dan dunia dunia haram lainya termasuk obat obatan.
Gun Gon:” siap pak.. “.
Gundul:”Drong mari pulang Drong enakan di desa toh di sana juga banyak potensi majunya yang bisa kita kembangkan, lagian juga bisa deketan ma si Romlah Drong drong drong”.
Gondrong:”ayo Dul ......... Pulang Pulang Dul...  hehe si romlah yang bisa naik pohon kelapa kan hahahaha .... “.
Akhirnya mereka pulang kembali ke Desa Gemahripah, Gun Gon pun akhirnya paham dengan apa yang di maksud dari Belanda Berkepala Hitam Tersebut, mereka mencoba berbangga diri dengan kata sederhana, banyak sekali ide-ide kreatif yang mereka ciptakan dan mampu menggerakan banyak kalangan dan memajukan desa mereka.
First


EmoticonEmoticon